Sejak bulan-bulan pertama kehamilan sebaiknya perlengkapan bayi sedikit demi sedikit Anda lengkapi. Selain perlengkapan tidur, perawatan, perlengkapan mandi dan pakaian atau baju bayi, apalagi yang diperlukan?
PERLENGKAPAN MAKAN
Jika Anda sudah memutuskan untuk menyususi sendiri si bayi, rasanya Anda tidak membutuhkan perlengkapan berikut ini. Namun, bila air susu ternyata tidak keluar atau bayi tidak dapat Anda susui sendiri karena satu dan lain hal, perlengkapan berikut ini perlu Anda sediakan;
• 2 buah atau lebih botol susu dengan kapasitas 150 cc
• Sikat pembersih botol dan dot bayi
• Tempat pembersih botol
• Tempat pemanas botol
• Tutup botol susu
• Termos air panas
Bila bayi sudah cukup umur untuk makan makanan padat, perlengkapan berikut sangat Anda perlukan, yaitu;
• Piring makan bayi
• Sendok makan bayi
• 2 buah atau lebih celemek bayi
• Cangkir atau gelas khusus untuk bayi
KERANJANG BAYI
Bayi baru lahir sampai usia 4-5 minggu dapat ditidurkan dalam keranjang. Diatas usia itu, keranjang sebaiknya tidak digunakan lagi karena bayi sudah dapat melakukan gerakan tertentu yang bisa menyebabkan posisi keranjang tidak stabil. Keuntungan keranjang bayi, antara lain mudah dibawa. Anda tidak harus setiap kali menggendong si bayi bila bepergian. Sambil bekerja pun Anda dapat meletakkan bayi (didalam keranjangnya) di sisi Anda. Umumnya keranjang bayi terbuat darirotan atau campuran plastik dan metal.
BOX BAYI, BABY BOX, RANJANG BAYI
Pada usia 5-6 bulan, bayi sudah dapat Anda letakkan di dalam box bayi. Box bayi dapat berfungsi ganda, yakni sebagai tempat tidur dan tempat bermain. Box bayi dapat pula digunakan untuk melatih anak belajar berjalan, dengan cara berpegangan pada pinggiran box. Ada beberapa bentuk box bayi, yakni yang terbuat darirotan, kayu atau besi. Pilihlah box yang kuat dan yang penting sesuaikan dengan besarnya rumah Anda. Keamanan merupakan alasan utama penggunaan box, terutama untuk bayi yang mulai merangkak kian kemari. Dengan menmpatkan bayi di dalam box, anak Anda terjamin keselamatannya dari benda-benda berbahaya di dalam rumah, seperti stop kontak, barang pecah belah dan sebagainya. Meskipun demikian, tidak berarti anak harus terus menerus diletakkan di dalam box.
KERETA DORONG BAYI / STROLLER
Ada berbagai jenis dan model kereta dorong bayi atau stroller. Ada yang hanya bisa dipakai untuk posisi tidur saja, namun ada pula yang bisa untuk posisi tidur dan duduk sekaligus. Kereta dorong bayi atau stroller sangat praktis, terutama bila Anda sering bepergian jauh.
KURSI MAKAN
Kursi makan untuk bayi umumnya digunakan setelah anak berusia 4-5 bulan atau ketika anak mulai diperkenalkan pada makanan padat. Biasanya kursi makan bayi terbuat dari plastik atau kayu serta dilengkapi dengan alat pengaman. Adanya kursi makan membuat anak bisa makan bersama anggota keluarga yang lain. Disamping itu, anak dilatih untuk berdisiplin, dalam hal ini tidak makan sambil bermain atau berjalan-jalan.
KURSI BER-RODA
Kursi roda untuk bayi adalah alat yang bisa dipakai untuk menolong bayi belajar berjalan. Akan tetapi, kursi roda menghambat bayi belajar mempertahankan keseimbangan badan, menekuk kaki dan meregangkan otot untuk berdiri dan berjalan. Oleh karenanya, tidak ada yang lebih baik selain anak melatih gerakannya sendiri sesuai dengan perkembangan usianya. Jatuh bangun untuk seorang anak yang mulai belajar berjalan adalah hal yang biasa. Justru dengan jatuh bangun ia belajar melatih keseimbangan badannya. Akan tetapi, ini tidak berarti anak tidak boleh menggunakan kursi roda. Sebagai selingan tentu saja kursi roda boleh digunakan, itupun sebaiknya setelah bayi berusia delapan bulan atau lebih.
GENDONGAN BAYI
Sampai saat ini, gendongan bayi merupakan cara yang umum dipakai untuk membawa bayi. Gendongan bayi sangat praktis karena sambil menggendong ibu dapat melakukan pekerjaannya. Gendongan bayi sekalipun banyak manfaatnya, sebaiknya tidak digunakan terus menerus. Bagaimana pun juga bayi perlu diberi kesempatan untuk merangkak atau berjalan. Bentuk alat ini bermacam-macam dan bisa disesuaikan dengan usia anak.
Selengkapnya...
Minggu, 17 Januari 2010
MENYAMBUT KEDATANGAN SI KECIL (BAYI/BABY)
Kamis, 04 Juni 2009
ANAK TIDAK HARUS MENANG (bag I)
Menghadapi masa depan yang amat kompetitif dibutuhkan pribadi yang tangguh. Banyak cara membiasakan anak hidup berkompetisi sehat. Lewat bakat gambar mereka, misalnya:
Berawal dari sama-sama tercekal kebebasannya, pasangan Martin-Indah akhirnya berikrar untuk memberi kebebasan kepada anak-anaknya. Dulu, Martin yang ingin menjadi novelis dilarang oleh orang tuanya. Demikian pula Indah yang ingin menjadi pelukis. Kedua bidang seni tersebut dianggap bukan profesi yang cerah. “Karena itu kami dulu juga berjanji,ayo,kita orang-orang gagal, bergabung, membentuk rumah tangga, bisa nggak? Ternyata sampai sekarang masih berjalan,” ujar Martin tertawa.
Atas dasar ingin memberi kebebasan itulah, pasangan ini kemudian berusaha melihat bakat anak-anaknya. Ternyata, sejak usia 2 tahun, si sulung, Kiki, sudah menghabiskan spidol untuk mencorat-coret dinding. Demikian juga dengan Krisna. “Mungkin bakat melukis mereka turunan dari ibunya,” sambung ayah tiga anak ini.
Bakat melukis yang sudah terlihat itu kemudian dikembangkan lebih lanjut. Kiki mulai ikut lomba lukis yang diselenggarakan oleh sebuah perumahan pada usia 4 tahun, dan masuk sepuluh besar. Setelah itu Kiki mulai mengikuti beberapa lomba dan sering menjadi juara. Mulailah ibunya memberikan pengarahan tentang bagaimana dasar melukis, karena dia yang lebih tahu tentang hal itu.
Meskipun mengaku tidak kompeten dalam mengajarkan melukis, namun dalam hal lomba lukis yang diikuti anak-anak, Martin juga mampunyai tugas yang tidak ringan. Seperti lomba-lomba lukis umumnya yang selalu mempunyai tema,maka pada saat ada lomba yang temanya rumit, tugas sang ayahlah untuk menerjemahkan pada kedua anaknya. Tema rumit tersebut misalnya saja:
Pembangunan di Mata Anak. Tentu saja anak-anak mengalami kesukaran untuk mewujudkan tema itu ke atas kertas gambar. “Nah, disinilah pentingnya peran orang tua. Biasanya saya akan menerangkan dan memperlihatkan gambar-gambar seperti prinsip sosrobahu dari jembatan layang dan sebagainya.” Tidak itu saja, Martin juga sering mengajak kedua anaknya mengupas lukisan-lukisan pelukis terkenal, sehingga memperkaya wawasan si anak.
Tema lomba lukis untuk anak seringkali memang jadi masalah tersendiri. Ada saja panitia lomba yang membuat tema tidak masuk akal bagi anak. Artinya, terlalu abstrak untuk dibayangkan oleh pola pikir anak-anak yang relatif masih sederhana. Misalnya saja tentang Kota Jakarta Tahun 2006. Kalau sudah begini, peran orang tua memang betul-betul penting.
Bagaimana cara pasangan Martin dan Indah mempersiapkan anak-anaknya menjelang lomba lukis yang bertema “sulit” seperti itu? Biasanya Martin akan menjelaskan apa maksud tema tersebut, kalau perlu ada foto-foto yang menunjang. Sedangkan sang istri, yang pernah jadi pelukis, membuat contoh sketsanya.
Misalnya saja, perspektif yang benar dari sebuah jalan layang itu bagaimana bentuknya. Kemudian mereka mencoba menuangkannya dalam bentuk lukisan. “Tentu saja, kami hanya memberi gambaran kerangka besarnya saja. Untuk detilnya, tetap mereka yang membuat agar nafas kekanakannya yang khas tidak hilang.” Meskipun sudah berlatih di rumah, pada saat perlombaan, Kiki dan Krisna tetap saja membuat gambar yang berbeda dengan latihannya. “Kami juga membiarkan saja, menang atau kalah. Karena,inilah yang disebut kebebasan.”
Lucunya,kedua anak Martin seperti punya felling terhadap hadiah yang akan diterima. Misalnya saja, ketika Kiki akan masuk SMP, karena ia salah seorang anak yang menjadi korban ‘kekacauan’ NEM di Bekasi, akhirnya harus membayar uang masuk kurang lebih Rp. 1.000.000,-. Kebetulan pada saat itu ada lomba gambar yang berhadiah tabungan, dan mereka ikut. Pulang-pulang, Kiki dan Krisna membawa tabungan masing-masing Rp. 700.000,-. Maka, bereslah masalh biaya masuk sekolah Kiki.
Tidak Cuma itu. Suatu ketika Krina ingin sepatu yang sedang in, yang kebetulan menjadi salah satu hadiah lomba lukis meskipun bukan hadiah pertama. Tepat seperti keinginannya, Krisna mendapat hadiah sepatu tersebut, dan langsung di pakai. “Jadi, ternyata anak-anak itu nggak selalu kepingin jadi juara pertama, tetapi justru hadiah tertentunya. Saya juga bersyukur kepada Tuhan, meskipun hidup kami sederhana, tetapi anak-anak punya berbagai fasilitas yang boleh dibilang mewah atas usahanya sendiri.”
Rabu, 03 Juni 2009
ANAK TIDAK HARUS MENANG (bag II)
Tetapi, yang namanya keinginan tidak selalu terwujud. Pernah juga Krisna ingin televisi yang jadi hadiah juara ketiga, karena TV di rumah rusak. Tetapi, ternyata ia malah jadi juara pertama dengan hadiah meja gambar, dan tentu saja harganya lebih mahal. “Ia agak kecewa, menyesal kenapa manggambar bagus. Kalau sudah begitu, saya kan nggak bisa apa-apa. Saya bilang kalau prestasinya bagus,”Soal hadiah, ‘kan bisa dijual beli tv,: cerita Martin tertawa.
Kompetisi tidak berarti harus menjadi juara. Kekalahan juga bagian dari makna kompetisi itu sendiri. Itu sebabnya Martin kadangkala sengaja mengikutsertakan kedua anaknya dalam lomba lukis yang ia perkirakan anak-anaknya kalah. “Saya paling tidak suka kalau mereka mau berangkat lomba bilang, ‘Saya pasti menang,deh…’ Kalau mereka ngomong seperti itu, biasanya saya akan ikut mengantar. Soalnya, tidak tahu mengapa, kalau saya mengantar, pasti mereka kalah. Mungkin karena mereka jadi tidak konsentrasi, atau memang kebetulan. Entahlah,” ujar ayah yang senang memasak untuk keluarga sebagai pengabdiannya ini.
Kecewakah anak-anak itu bila kalah berlomba? “Tergantung. Kalau kalahnya fair, artinya lukisan anak yang menang memang lebih bagus, mereka bisa menerima kekalahan itu. Tetapi kalau kalahnya tidak wajar, anak-anak ya kecewa, meskipun kami tidak bisa berbuat apa-apa.” Kekalahan tidak wajar itu misalnya saja karena juri dipengaruhi panitia, sengaja mengalahkan anak yang memang sering menang lomba karena biasanya para peserta lomba lukis memang anak yang itu-itu saja,atau juri sengaja memenangkan anak yang ikut sanggar lukis tertentu, sementara Kiki dan Krisna tidak ikut sanggar manapun. “Karena itu, orang tua juga perlu membuat taktik seperti ganti-ganti nama atau mencari tahu selera juri agar anak tidak dicurangi. Bukannya saya ingin anak menang terus, tetapi kalau kekalahan itu tidak fair’ kan kasian si anak yang sudah berjuang.”
Satu hal yang penting untuk mengembangkan bakat dan minat anak adalah memberikan sarana yang layak. Artinya,”Karena saya memang ingin membebaskan mereka menggambar, kami ya harus mau berkorban membelikan peralatan gambar yang harganya tidak murah. Begitu juga dalam mengantar mereka ikut lomba kesana kemari. Itu adalah salah satu bentuk dukungan kami sebagai orang tua.”
Tidak adakah kesulitan Martin mengembangkan bakat dan minat anak-anaknya ini? “Tentu saja ada. Misalnya saja, Krisna itu lebih berbakat daripada Kiki. Tetapi dia itu angin-anginan. Kalau sedang ikut lomba misalnya terus melihat mainan yang menarik perhatiannya atau ada dongeng di sekitar tempat lomba, ya sudah konsentrasinya jadi buyar..” Kalau sudah begini, Martin hanya bisa menasihati Krisna untuk konsekuen terhadap keinginannya ikut lomba. “Saya juga tidak bisa memaksa, karena tujuan mengembangkan bakat anak-anak itu kan bukan semata-mata untuk lomba, tetapi juga untuk kebebasan berekspresi mereka, karena itu hak yang paling azazi”.
Tiap anak memang memiliki karakter berbeda. Kalau dulu Kiki bisa menerima kekalahan, tidak demikian halnya dengan Krisna, apalagi bila kakaknya menang. Ia akan menangis, meskipun dipinjami piala kakaknya atau disuruh mewakili menerima hadiah. “Krisna tidak pernah mau, karena tahu kakaknyalah yang menang. Ya sudah, kami mendiamkan saja, karena dia kan mesti tahu bahwa tidak selamanya harus menang”. Sekarang, kedua anak ini sudah tahu bahwa dalam kompetisi itu ada yang menang dan ada yang kalah. Yang pasti, mereka telah berusaha optimal. Mungkin seperti itu pula kehidupan.
JADIKAN SI KECIL PELUKIS HIJAU
Si kecil Anda gemar menggambar? Kembangkan terus kegemaran tersebut. Sebab, melalui kegiatan menggambar maupun melukis, si kecil akan belajar mengembangkan daya pikir, daya cipta dan kemampuan berkomunikasi dangan bahasa gambar.
Agar kemampuan itu berkembang optimal, Anda bisa membantunya dengan menyediakan berbagai sarana yang dibutuhkan si kecil untuk menyalurkan kegemarannya menggambar. Ia tentu membutuhkan sejumlah kertas dan beberapa batang crayon. Nah, sebagai orang yang peduli terhadap lingkungan, Anda bisa mendorongnya untuk terus mengembangkan kreativitas sambil mengajarkannya konsep konsumen hijau (konsumen berwawasan lingkungan). Caranya? Kertas-kertas bekas yang baru digunakan salah satu sisinya, bisa Anda manfaatkan sebagai media bagi si kecil untuk menuangkan imajinasinya. Dan untuk mewarnai, sekotak crayon mungkin menjadi pilihan Anda.
Tapi, tahukah Anda bahwa untuk membuat batang-batang crayon tersebut, kekayaan dan kualitas bumi kita terpaksa harus di korbankan. Karena, untuk membuat toluen dan etanol, dua jenis bahan kimia yang terkandung di dalam setiap batang crayon, diperlukan sejumlah bahan bakar minyak bumi. Padahal kita semua tahu, persediaan minyak bumi dunia saat ini kian menipis saja.
Kerugian yang diderita bumi bukan hanya itu saja. Dari proses tersebut juga dihasilkan asap hitam dengan kandungan pertikulat yang tak terhitung jumlahnya. Asap hitam itu bisa dipastikan akan menimbulkan pencemaran udara, terutama di kawasan sekitarnya. Kualitas udara bumi jadi menurun.
Lantas, bagaimana caranya agar bakat dan hobi melukis si kecil tetap tersalurkan tanpa harus mengorbankan lingkungan?
Tips berikut ini mungkin bisa membantu Anda:
- Pilihlah crayon yang terbuat dari lilin lebah (beewax crayon). Proses pembuatan crayon jenis ini (caryon hijau) tidak membutuhkan bahan bakar minyak bumi.
- Selain crayon, Anda juga bisa memilihkancat air untuk si kecil.
- Kalaupun terpaksa memberikan crayon yang bukan jenis beewax. Ingatkan si kecil untuk tidak mebuang-buang potongan yang masih bisa digunakan.
- Daur ulang semua benda yang masih bisa digunakan untuk menggambar. Misalnya: kertas bekas, karton bekas tempat telur, kardus bekas kemasan barang dan lain sebagainya.
Dengan menanamkan nilai-nilai dan perilaku yang peduli terhadap lingkungan sejak dini, niscaya si kecil kelak akan tumbuh menjadi seorang pelukis hijau yang ternama.












